Posts

Showing posts with the label Fiksi

Sora

Image
Ilustrasi : Pixabay Tiap sore dari kejauhan Marko mengamati wanita itu, membereskan toko sebelum tutup, menghitung pendapatan dari modal usahanya, sembari mengelap keringat di dahi, yang bagi Marko tentunya bau wangi. Ia jatuh cinta padanya. Senyum Marko mekar saban melihat kehadiran wanita itu. Matanya tak lepas dari sosok yang setiap sore ia tunggu. Rasanya ia ingin berada di samping wanita itu, menjadi bagian dari segala aktivitasnya. Atau sekedar menawarkan sapu tangan yang selalu terselip di sakunya. Sapu tangan? Ah, tiba-tiba ia geli sendiri. Betapa manusia tak mudah lepas dari kebiasaan generasinya. Dan ia kini sibuk menapak-tilasi tangga-tangga usia yang telah ia lalui. Yang ia hirup wanginya, ia kenang selama yang ia mau, atau ia hembuskan secepat laju Tokaido Shinkansen menuju Shin-Osaka dari Tokyo . Hidup, baginya adalah jalan keheningan kini. Setelah liku-liku kemudaan yang penuh hiruk pikuk. Pertempuran memperjuangkan nasib, samurai yang ia tebaskan pada leher-leher keme...

Darul

Image
Ilustrasi : Pinterest Darul mematut diri di depan cermin. Baju satpam membungkus tubuhnya yang kerempeng. Terlihat kedodoran. Namun begitu, Darul terlihat begitu suka cita. Tangannya gemetar membelai emblem satpam di dadanya. Giginya yang kekuningan dan hitam di pangkal gusinya terlihat dalam cermin. Tar tembakau dari rokok linting yang dihisap nyaris tak berjeda meninggalkan jejak di sana. Kemarin sore, mamaknya memberi kabar, Darul diminta menjadi satpam di komplek yang berbatas dengan kampungnya. Komplek perumahan yang hanya berisi 35 rumah dengan tembok tinggi yang mengelilinginya. Rumah-rumah komplek dengan halaman seluas pekarangan rumahnya. Rumah-rumah yang selalu tertutup pintu pagarnya, yang hanya pembantu-pembantu rumah yang terlihat mondar-mandir di jalan komplek, bergerombol genit mengelilingi tukang sayur, atau sekedar ngerumpi di pagar rumah majikan. Satpam adalah cita-cita tertinggi Darul. Di kepalanya, berseragam satpam tak kalah gagah dengan polisi atau tentara yang pe...

Dia Gayatri, Kita Siapa?

Image
Cover Novel Dia Gayatri, Bre Redana "Di dunia ini, sejatinya tidak ada yang kebetulan. Segala peristiwa yang kita alami sudah ada dalam skenario Yang Maha Kuasa. Termasuk pertemuan kita ini." Teman kecil saya berkata pada sebuah pertemuan di kota tempat saya tinggal. Itu merupakan pertemuan yang sulit saya percaya. Saya dan teman saya itu sudah hampir tiga dasawarsa tak bertemu. Kabarpun tak pernah saya dengar. Ia tak ada dalam memori otak selama itu. Bahkan ketika saya pulang kampung, ia tak ada dalam list pertanyaan saya pada anggota keluarga sebagai bahan obrolan pemantik kenangan. Namun tiba-tiba ia muncul di kota saya, di hadapan saya dalam temaram lampu cafe. Pakaiannya berkelas dengan aroma parfum yang menguar, kemudaannya terjaga sebagai pertanda kesuksesan yang mengiringi kehidupannya. Ia katakan, di Bandung hanya sebentar membicarakan proyek dengan partner yang kebetulan tinggal di Dago atas.  Pertemuan denganku, ia sempatkan setelah pembicaraan dengan rekannya sele...

Pohon Sukun di Belakang Rumah

Image
Ilustrasi : quizizz.com Menurut cerita Ibu, Bapaklah yang menanam pohon sukun di belakang rumah kami. Masih menurut Ibu, pohon itu ditanam ketika pemerintahan orde baru menggalakkan penghijauan lahan-lahan gundul. Tiga batang bibit sukun yang ditanam Bapak, semuanya tumbuh subur. Dua batang ditanam di sudut pekarangan sebagai penanda batas dengan tanah tetangga kanan dan kiri. Sebatang sisanya ditanam persis di samping sumur belakang rumah. Dua batang sukun penanda batas itu telah tak terlihat tunggulnya. Dirobohkan oleh tetangga karena akarnya menjalar jauh hingga bertunas di tritisan dan plataran rumahnya. Pada akhirnya, tersisa satu pohon sukun itu di belakang rumah. Berkembang dengan begitu pongahnya. Tidak pernah bosan memamerkan buah-buahnya yang bergelantungan, melambai-lambai memanggil kelelawar ketika matang, memberi kami hidangan yang dimasak berbagai rupa oleh ibu. Digoreng, dikukus, dibuat keripik atau terkadang disayur santan dengan campuran daun melinjo dan pete. Apa saja...

Perjalanan Mustahil Samiam Dari Lisboa : Sebuah Pencarian Identitas

Image
Perjalanan Mustahil Samiam Dari Lisboa Terbit tahun 2021, saya begitu antusias menanti buku ini terbit. Novel yang ditulis oleh Zaky Yamani dalam kurun waktu yang panjang untuk menyelesaikannya. Berbekal program residensi penulis Indonesia pada tahun 2017 dari Komite Buku Nasional, saya yakin Zaky Yamani melakukan riset yang dalam untuk melahirkan novel "Perjalanan Mustahil Samiam Dari Lisboa".  Sebelumnya saya telah membaca empat buku tulisan dari Zaky Yamani . Novel Bandar dan Pusaran Amuk , kumpulan cerpen Johnny Mushroom serta satu buku puisi berjudul Di Muara Tagus . Hasilnya, saya selalu menunggu buah karya penulis ini. Oh ya, satu lagi terjemahan beliau yang sangat saya sukai, Pedro Paramo , dari penulis Meksiko, Juan Rulfo . Nah, mari kita berlayar bersama Samiam (dibaca Sang'iang). Zaky , membuka novel ini dengan sebuah judul "Tentang Tiga Buku Antik", yang jika kita baca seolah-olah sebagai pengantar. Pengantar yang ditulis oleh Profesor Barend Hendr...